barang siapa yang telah mengetahui Tuhannya, maka ia telah mengetahui jati dirinya

"experience is the Best Teacher"

sebaik-baik pembimbing adalah dari yang maha mengetahui

"experience is the Best Teacher"

ibadah merupakan sarana pendekatan dan bukti ketaatan

"experience is the Best Teacher"

ilmu cahaya di dunia dan akhirat

"experience is the Best Teacher"

tujuan akhir atau sesaat???

"experience is the Best Teacher"

Senin, 03 Juni 2013

AGAMA SIKH

SEJARAH AGAMA SIKH
Pada pertama kali Nanak mengajarkan ajaran tersebut, majikannya Nawab Daulad Khan Lodhi, juga mendengarnya, dan bertanya mengapa “mengapa Nanak berpendapat tidak ada Muslim? “ Nanak menjawab: “Nwab Sahib, adalah sangat sulit menjadi seorang muslim. “ seterusnya ia berkata :
   “Orang yang kokoh kuat memang keyakinanya berhak di sebut seornag muslim, amalan-amalanya harus sesuai dengan keyakinanya terhadap keteladanan Nabi Muhammad ia harus membersihkan diri dari kesombongan  dan kerakusan tidak lagi tergoda oleh dua macam kepentingan kehidupan dan kematian menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan mengenal dia sebagai yang maha kuasa bebas dari tekanan diri pribadi mengasihi segala sesuatu demikian itulah seseorang yang boleh menamakan dirinya sebagai seorang Muslim ”
   Guru Nanak pribadi adalah seorang yang benar-benar hidup konsekuen dengan ucapanya itu. Ia mengajarkan keesaan Tuhan. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa tuhan itu adalah maha esa, kekal abadi, berdiri sendiri dan tanpa rupa. Tuhan yang di ajarkan Nanak bukan suatu ide yang hayal atau abstrak bukan sesuatu kekuatan moral yang brsifat impersonal karena menurut Nanak. Tuhan adlah wujud yang personal, maha pencipta,  maha pengasih dan penyayang
            Nanak menolak ajaran tentang Dewa-dewa yang di ajarkan agama hindu menurut dia hanay Tuhan yang maha esa yang maha benar sajalh ayng wajib di sembah. Ajaran Nanak tentang keesaan Tuhan ini jelas dapat di baca dalam Mulmantra dari japji, baris baris pertama dalam bagian2 pertama dalam kitab suci Adhi Granth. Di situ termuat ucapan-ucapan Nanak yang antara lain berarti :
            “hanya ada satu Tuhan yang nama-Nya adalah kebenaran, pencipta, terpelihara dari kekuatan dan musuh tidak dilahirkan, kekal, berdiri sendiri, Maha Besar, melimpah. Yang maha Esa itulah yang awal dan yang akhir,  yang maha Esa itulah yang akan datang
            Nanak sama sekali menolak setiap bentuk kompromi dalam ajaran tentang keesaan tuhan ia dengan tegas menolak ajaran tentang Trinitas, dan menyatakan bahwa pembagian tuhan menjadi tiga pribadi adalah bertentangan dengan keesaan Tuhan dalam hal ini Nanak berpendapat bahwa “adalah anggapan yang biasa bahwa dewi ibu secara misterius melahirkan ajaran trinitas atau tritunggal, yaitu tuhan pencipta Tuhan memelihara dan Tuhan pemusnah. Akan tetapi pada hakeketnya itulah Tuhan, yang mengatur alam semesta berdasarkan kehendaknya dan buakan yang lain yang paling menabjukan manusia adalah bahwa Tuhan itu melihat Merekan dan mereka tidak melihat-Nya, semua tergantung kepada-Nya, wujud pertama yang maha suci yang tidak berawaldan tidak mati danselamanya tetap sama”
            Guru Nanak juga menyangkal ajaran ketuhanan yang bercorak monistik (advaita vedantism) dari Hinduisme. Menurut ajaran agama ini alam semesta adalah maya atau khayal, realitas sejati hanay satu yaitu Tuhan begitu juga Nanak tidak mau menerima ajaran dualistik yang di ajarkan oleh hinduisme yang di kenal juga dengan  Shankhya-yoga. Menurut ajaran ini alam dan tuhan tidak di ciptakan dan sama-sama kekal, sama dengan umat Islam Nanak percaya bahwa alam semesta itu adalah nyata namun di ciptakan dan tidak kekal. Alam ini nyata klarena merupakan bukti dan kehendak dan hukum tuhan. Semua benda menjadi wujud, sementara karya dari kehendak itu tidak bisa di uraikan. Ahnya dengankehendak-NYA semua wujud mengembangkan hayat dalam diri masing-masing, dan kemudian semua wujud akan bertambah mulia karenakemuliaan yang menciptakanya.
            Guru Nanak menyeru orang agar mengikuti jalan menuju tuhan. Keselamatan, menurut dia, hanya teruntuk bagi siapa yang menundukkan kemauanya di bawah kehendak Tuhan. Siapa yang ebrfikir dan berbuat sesuai  denagn keinginan tuhan, ia akan selamat. Dalam hal ini Nanak berkata “ jalan kepatuhan akhirnya menyampaikan orang ke pintukeselamatan pertama orang itu harus menjadipelopor hidup rohaniah bagi keluarganya kemudian menjadi seorang guru yang menyelamatkan dirinya sendiri ia juga menyelamatkan pengikut-pengikutnay Nanak orang yang mematuhi sabda itu tidak akan tersesat dalam menempuh jalan dari pintu ke pintu itu karena sabda itu adalah sanggatbersih dan terang. O, jika seseorang tahu bagaimana mematuhinya dengan seluruh hati dan jiwanya”
10 Guru Agama Sikh dan Ajaran-ajarannya
Ø  Guru Nanak
Riwayat hidupnya sudah di uraikan
Ø  Guru Angarh (1539-1552)
Ia menjadi guru karena sudah ditunjuk langsung oleh guru nanak sebagai pengantinya, saat sebelum Nanak meningal dunia, ia merupakan seorang pengikut Nanak yang tekun, hidup sederhana sebagaimana Nanak. Dengan kebijaksanaannya ia berhasil mencegah terjadinya perpecahan antara para pengikutnya dengan mereka yang mengikuti putra guru nanak, Sri Chand yang menuntut bahwa ialah yang lebih berhak mengantikan bapaknya, sumbangan terbesar Guru Angarh yang terbesar dalam Agama Sikh adalah mempelopori penyusunan Naskah punjabi, Gurmukhi dan memasukan kedalamnya syair-syair serta fatwa-fatwa guru Nanak, naskah-naskah ini  merupakan embrio kitab suci agama sikh yang akhirnya berkembang menjadi Adhi Grath
Ø  Amar Das (1552-1574)
Peranan pertamanya adalah mengorganisir orang-orang Sikh menjadi dua sangat atau jamaah yang mendirikan lembaga yang di kenal dengan guru ka langar atau dapur umum tempat semua orang dari seluruh kasta dapat dengan bebas mengambil makanan bersama-sama Amar Das di angap guru yang berusaha keras mengadakan perubahan sosial atau pembaharu sosial yang besar, amar das juga melarang umat hindu melakukan pemujaanterhadap sakti, membakar janda yang di tingal mati suaminya.
Ø  Ram Das (1574-1581)
Guru ini memulaipengalihan danau besar yang di sebut amitshar, juga merencanakan konstruksi kuil emas di tengah-tengah danau tersebut lokasi danautersebut di sediakan di tengah-tengah sultan akbar dan peletakan batu pertama pembangunan kuil tersebut di lakukan olehsufi besar, Hazrat Mian Meer daei Lahore. Ram Das mulaimelakukan teradisi mengumpulkan sumbangan tetap semacam jakat dari para pengikutnya. Sumbangan ini di maksudkanya untuk mengatur masyarakat Sikh yang semakin nyata wujudnya, dia mulai mengangkat pejabat-pejabat yang di sebut masand untuk memimpin upacara agama dan mengumpulkan sumbangan tersebut. Ram Das adalah gurupertama yang menunjuk putra sebagai penganti. Dengan demikian ia telah merubah tradisi guru-guru sebelumnya dan membuat jabatan guru itu menjadi jabatan yang di wariskan kepada anak.
Ø  Arjun (1581-1606)
Ia merampungakan pembangunan kuil Amritshar, menyempurnakan penyusunan kitab suci agama Sikh, Adi Grath , ia mengorganisir orang-orang Sikh menjadi satu masyarakat yang berdiri sendiri terpisah dari lainnya, dengan kitab suci sendiri yang ditulis berdasarkan naskah-naskah mereka sendiri, dengan danau suci dan rumah ibadah sendiri pula. Guru Arjun dianggap sebagai Sachcha Padshah (kaisar yang benar) oleh para pengikutnya. Arjun telah mengadakan inovasi terhadap agama Sikh, seperti menciptakan pakaian pimpinan kebaktian, memperluas ajaran-ajaran agama Sikh berdasarkan ijtihadnya sendiri, dan menata masyarakat Sikh ke arah suatu masyarakat yang bakal menjadi satu kerajaan yang dicita-citakannya. Arjun adalah guru pertama yang mengambil peranan aktif dalam kehidupan politik sehingga terlibat dalam konflik dengan kaisar Jehangir
Ø  Guru Har Gobind (1606-1645).
Karena golongan Sikh sudah terlibat dalam pertentangan-pertentangan politik secara terbuka dan langsung sejak masa Guru Arjun, maka Har Gobind mulai berpikir tentang keamanan dan keselamatan dirinya. Untuk itu, ia mengangkat pengawal-pengawal pribadi dan memerintahkan para pengikutnya untuk memasuki dinas ketentaraan. Di kuil-kuil Sikh nyanyian-nyanyian suci yang penuh kedamaian digantinya dengan mendengarkan lagu-lagu perjuangan. Selain itu, kursus-kursus keagamaan diganti pula dengan pelajaran tentang rencana-rencana penaklukan atau strategi militer. Dibawah kepemimpinannya, kaum Sikh berusaha menggempur pasukan-pasukan kerajaan kaisar Shah Jehan.
Ø  Guru Har Rai (1645-1661).
Ia adalah cucu Har Gobind. Ia berusaha keras meningkatkan semangat kemiliteran kaum Sikh. Untuk itu, ia menjalin kerjasama dengan Dara Shikoh, seorang moderat, putra Shah Jehan. Har Rai pernah membantu Shikoh dalam peperangannya melawan Aurangzeb sampai mencapai kemenangan.
Ø  Guru Hari Krishen (1661-1664).
Guru Har Rai tidak menunjuk putranya yang tertua, Ram Rai, menjadi penggantinya, melainkan Hari Krishen, putranya yang kedua. Hal ini disebabkan karena putra tertuanya itu menjalin hubungan dengan musuhnya, Aurangzeb, seperti yang telah disebutkan diatas. Hari Krishen sendiri waktu itu masih kecil. Oleh karena itu, pengangkatannya adalah sebagai simbol belaka, karena ia meninggal saat usia Sembilan tahun. Ram Rai tidak mau patuh dan tidak menerima adiknya sebagai guru. Ia memisahkan diri dan mendirikan sekte sendiri bersama para pengikutnya. Mulai saat itu gejala perpecahan di kalangan kaum Sikh semakin terlihat.
Ø  Guru Tegh Bahadur (1664-1675).
Pada saat Hari Krishen meninggal dunia, beberapa orang utama di lingkungan kaum Sikh tampil menuntut agar diangkat menjadi guru penggantinya. Pilihan akhirnya jatuh pada Tegh Bahadur. Ram Rai, saingan terdekatnya, semakin kecewa karena merasa bahwa yang paling berhak menjadi guru menggantikan adiknya adalah dirinya sendiri. Kekecewaannya itu membuatnya semakin memisahkan diri dari kaum Sikh pada umumnya, dan menjadikan dirinya sebagai musuh utama Tegh Bahadur. Namun, Tegh Bahadur ternyata orang yang kuat dan berhasil menjadikan dirinya sebagai seorang panglima perang yang pertama bagi kaum Sikh yang telah berhasil memperluas pengaruh agama Sikh sampai ke wilayah-wilayah India bagian selatan, bahkan sampai ke Ceylon.
Ø  Guru Govind Singh (1675-1708).
Selain Guru Har Gobind yang sempat menjadi guru selama kurang lebih 39 tahun, maka Guru Govind Singh adalah guru kedua yang paling lama menjabat sebagai guru, yaitu 33 tahun. Ia adalah putra Tegh Bahadur. Selama dua puluh tahun ia berhasil menahan diri dari dendam terhadap orang yang membunuh ayahnya. Waktu selama itu ia pergunakan untuk mengkonsolidasi diri dan kekuatan. Ia menyusun rencana untuk menjadikan dirinya sebagai jagoan Hindu melawan penguasa Mughal. Untuk itu, ia berusaha memperbesar masuknya pengaruh Hindu ke dalam agama Sikh. Ia mulai menulis beberapa cerita tentang dewa-dewi Hindu. Syair-syair agama Hindu, yang dikutipnya dari Ramayana dan Mahabharata, dikembangkannya di kuil-kuil Sikh bersama-sama dengan Adi Granth.
AJARAN NANAK TENTANG MANAUSIA
            Guru Nanak mengajarkan bahwa seluruh umat manusia adalah satu. Orang di muliakan bukan karena ia angota kasta ini atau itu, kepercayaan ini atau itu, melainkan karena ia adalah”manusia” oleh karena itu nanak juga sangat menentang ajaran tentang kasta, lebih-lebih tentang adanya manusia najis yang haram di sentuh.
            Nanak meletakan dasar bagi pengangkatan martabat manusia dikalangan msayarakat hindu buakan atas dasar kasta, upacara upacara singkat seerti mantra-mantra, keajaiban-keajaiban, misteri-misteri akan tetapi atas dasar kodrat dan kecenderungan manusia itu sendiri.”tidak ada gunanya itu kasta dan kelahiran pergilah dan tanyakan kepada mereka yang mengetahui kebenaran. Derajat seseorang di tentukan oleh amal kebajikannya”demikian katanya jalan manusia untuk menyembah tuhan, menurut Nanak adalah menyampaikan rahmat karunia-Nya dan merenungkan nama-Nya.
            Mengenai cinta manusia kepada Tuhan Nanak menyatakan “ kalau orang cinta kepada Tuhan, perdengarkanlah lagu kecintaan tuhan. Kalau orang cinta kepada tuhan sebutlah namanya selalu dan ingatlah akan kesucian-Nyacinta kepada tuhan harus ibarat baungga berantai mencintai air, seperti burung pungguk merindukan bulan, seperti suami mencintai istri, seperti istri mencintai suami, kalau kamu menyebut nama-Nya kamu kan hidup kalaukamu melupakan Dia kamu mati, lapangkan hati mu kepada-Nya masuk dan bersatu dengan-Nya. Tnggelamkan dirimudalam pelukan-Nya dan nikmatilah kehangatan pelukan Tuhan
            Nanak sangat mementingkan segi moral manusi, menurut dia.manusia harus hidup dengan mengutamakan kesempurnaan moral karena kesempurnaan manusia terletak pada tinggi rendahnya moral itu. Dalam memeberikan nasehat untuk pembinaan moral manusia.



            AJARAN NANAK TENTANG ALAM
            Nanak mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, dan tida abadi. Yang kekal dan abadi hanya Tuhan, karena Tuhan adalah relitas mutlak. Nanak juga manusia lain adalah mahluk tuhan. Tuhan adalah yang maha kuasa yang mneguasai segala-galanya bila manusia beranggapan bahwa ia bebas melakukan kehendaknya, bahwa ia tidak akan dapat menikmati kebahagiaan yang sejati. Dengan kodrat dan iradat Tuhan seluruh alam ini terjadi, dan melalui hukum tuhan alam ini menjalani kehidupanya. Tidak ada sesuatu yang berjalan di luar kehendak dan hukum Tuhan. Dengan koadrat Tuhan semuanya di kuasai oleh maut dan menuju kepada kemusnahan. Dengan kodrat Tuhan pula manusia terserap ke dalam Yang Maha Besar.
            Apapun yang dikehendaki Tuhansemuanya akan terjadi tidak ada yang berada di bawah kuasa mahluk, Tuhan yang maha kuasa dan tuhan maha tahu dan maha kasih sayang. Ia kuasa menjadikan dan memusnahkan. Ia tahu apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi. Ia mengasihi siap yang tunduk dengan perintahnya dengan menganugrahkan kehormatan, dan ia akan menghukum semua yang ingkar dari ketentuan-Nya. Semua yang telah dan akan menjadi adalah menurut kehendak-Nya.
            Demikaian itu garis besar guru Nanak. Ajaran-ajaran yang berasal langsung dari Nanak ini di lengkapiterus oleh guru-guru penggantinya, guru Angarh mulai mencetuskan tentang tentang perlunya kaun Sikh memiliki kitab sudi dan rumah ibadatsediri. Ia mempelopori kedua hal tersebut. Ia juga berusaha membersihkan unsur-unsur Hindu dari dalam Sikh sepoerti larangan pemujaan sakti. Larangan membakar janda yang di tinggal mati suaminya di pelopori oleh Amar Das, guru ke tiga. Rum Das menetapkan ajaran tentang kewajiban menyumbangkan sebagian harta untuk menegakkan agama dan kepentingan uamt juga pengangkatkan seseorang menjadi imam atau pemimpin upacara di tetapkan olehnya. Realisasi ide adanay tempat suci di lakasanakan oleh Rum Das ini. Dia membangun kuil emas di amritsar, ayng sampai sekarang di anggap sebagai kuil yang paling suci oleh orang-orang sikh.
            Guru Govind singh memperdekat Sikh dengan Hindu. Ian memasukan kembali unsur-unsur Hindu yang sebelunya telah di bersihkan dari Sikh. Brkat  jasanya, syir-syair Ramayana dan Mahabrata di padukan pembacanya bersam Adi Granth di kuli-kuil Sikh. Begitu juga ajaran-ajaran tambahan lainya, seperti penyucian atau sakramen yang mereka sebut Khandadi-Paul dan Karah Parshad. Perjamuan dan simbol-simbol kesucian. Merupakan tambahan dari guru.
            PERIBADATAN AGAMA SIKH
            Agama Sikh tidak banyak merumuskanuapcara ibadat. Ibadat yang paling pokok adalah samadi dalam rangka mengingat tuhan untuk menyucikan rohanidari pengaruh-pengaruh yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Di samping itu mereka mengenal sujud dan menyanyi di kuil. Tetapi semua itu inti pokoknya adalah dzikir. Menurut mereka, kewajiban tertinggi adalh menyebut Tuhan yang maha Esa secara terus menerus. Nama Tuhan yang murni itu adalah kekuatan yang akan membantu manusia sehingga harus selalu di ingat dan di ucapkan hilangkan segala sesuatu dari ingatan selain nama yang murni itu, sebut nama itu berulang kali, dengan nama itu tumpakan ingatan akan nama itu, ualng dan ulangi terus menyebut nama Tuhan setiap saat sampai jiwa terserap ke dalam cahaya ketuhanan.
            Nama Tuhan yang murni di wujudkan dalam bentuk jamaah yang oleh mereka di sebut dengan Khalsa Panth (jalan yang murni). Orang yang sudahmenempuh jalan ini artinya sudahmenjadi angotanya melalui sakramen atau babtis, akan memperoleh status sebagai “ orang yang suci murni” tidak semua kaum Sikh mau dan menerima upacara sakramen dan bentuk sakramen ini. Mereka menganggap bahwa baptis atau sakramen bukan ajaran Nanak. Mereka ini tetap mengutamakan samadi dan ketentraman jiwa dalam ibadat. Mereka di sebut Sahajdharis atau “orang yang hidup tentram”
            Selain dari itu kaum Sikh juga menjadikan tradisi menyikat rambut dua hari sekali dan membaca serta menyanyikan syair-syair yang terdapatdalam kitab suci mereka setiap hari sebagai ibadat. Bagi mereka yang tergabung dalam golongan Khalsa Panth, berperang adalah juga ibadat. Sebab itu tidak aneh bila setiapmereka melakukan aksi-aksi kekerasan, kekerasan terakhir. Yang terdiri dari basis kaum militernya, selalu di pusatkan di kuil, termasuk kuil emas Amritsar. 
Akhirnya perlu dilihatkembali keyakinan dan kecenderungan Nanak sendiri selama dia berseruTuhan dengan berbagai ajaran yang di anut oleh masyarakat india terutama Hindu dan Islam. Ajaran-ajaran Hindu jelas semuanya di Tolak oleh Nanak,tetapi ibadat-ibadat islam juga tidak ada yang di tetapka sebagai ibadat kaum Sikh. Jalan samadi dan Dzikir yang di utamakanya untuk menyembah tuhan adalah jalan mistik yang paling populer dalam semua agama. Melalui jalan mistik semua agama  bertemu, sehingga benar kiranta bila di katakan bahwa agam Sikh yang di dirikan oleh Nanak merupakan agama mistik dan sinkretia.
KITAB SUCI AGAMA SIKH
A.    Adi Granth
Kitab suci ini di sebut juga guru Granth Sahib. Dan merupakan kitab yang di susun oleh guru yang kelima Arjun, di Amritsar. Sebelumnya, guru Angarh, guru ke dua sudah berjasa mempelopori penyusunan naskah punjabi. Gumurkhi. Ke dalamnya di masukan himpunan-himpunan  syair-syair serta fatwa-fatwa Guru Nanak. Naskah ini menjadi embrio bagi kelahiran Adi Granth.  Adi Granth mempunyai tiga versi, yaitu kartarvali bir, Bhai Banno Vali Bir dan Dam Dama Vali Bir. Yang tersebut akhir merupakan buku kecil, hasil revisi guru Govind Singh yang melengkapi dan menyisihkan isi kitab yang di susun ayahnya, Tegh B ahadur. Sisipan itu terdiri dari nyanyian-nyanyian suci yang di susun dari lima orang guru yang pertama dan yang di susun oleh Govind Singh sendiri, serta syair-syair yang diambilkan  dari Mahabrata dan Ramayana Hindu
      Tulisan-tulisan dalam Adi Granth dapat di golongkan menjadi tiga macam, yaitu pertama, nyanyian-nyanyian suci yang disusun oleh guru Sikh. Bagian ini merupakan bagian yang paling besar, terdiri dari 2218 syair oleh arjun :974 syairoleh guru Nanak: 907 susunan amar dad: 679 susunan Ram Das, 115 karaangan TeghBahadur dan 62 syair keduan nyanyian yang berasal dari kaummistik baik yang beragama Hindu maupun Kaum Sufi. Bagian yang terbesar dari nyanyian ini adalah yang berasal darri sufi besar, yaitu kabir dan Farid. Ketiga, puji-pujian yang di tunjukan terhadap guru-guru Sikh, di susun oleh penyair pengembala kaum sikh. Syair-syair yang terdapat dalam  Adi Granth tidak di susun berdasarkan pengarang atau tema pokok. Melainkan di bagi menjadi tigabelas ragas, yaitu semacam model musik untuk di nyanyikan.


SEKTE-SEKTE AGAM SIKH
            Ada dua sekte besar yang sanagt menonjol    di aklangan kaum Sikh, yaitu pathis Nanak dan Khalsa Sikh. Panthis Nanak meupakan aliran besar yang ingin mempertahankan ajaran-ajaran guru Nanak, sedang khalsa merupakan kelompok yang mengutamakan kepatuhan dan ketundukan kepada guru yang ke sepuluh, yaitu Govind Singh. Pandangan kelompok ini lebih dinamis dan lebih terbuka dengan kemungkinan adanya perubahan dan pembaharuan. Selain kedua sekte di atas kaum Sikhterpecah pula ke dalam lima sekte lain, yaitu Orsi, Hendali, Namdari, dan Akali dua aliran yang tersebutakhir perlu di jelaskan lebih lanjut.
A.    Sekte Namdari
Sekte ini di dirikan oleh Bhai Ram Singh, seorang perwira pasukan Raja Ranjit Singh. Bhai Ram adalah seorang yang taat beragama dabn murid dari seorang pengikut sekte orsi, yaitu baba balak ram. Bhai Ram ingin mengadakan pembaharuan terhadap agama Sikh. Dia mengajarka bahwa gurunya Baba Balak Ram, adlah guru Sikh yang kesebelas. Ajaran ini di terima oleh sebagian kaum Sikh, dan mereka mengangap bahwa Bhai Ram adalah guru yang ke duabelas  aliran ini terkenal karena keshalehanya dan pakaian yang di pakai.
Anggota-anggota sekte ini tidak mau memakan makanan yang tidak dimasak oleh angota kelompok mereka, dan tidak mau pula memakan makanan yang najis, minum minuman yang haram, atau khaddhar. Sikap mereka terhadap penguasa juga keras. Mereka selalu memboikot kantor-kantor pos dan pengadilan inggris. Sewaktu ketika mereka pernahmemcoba mengusir kekuatan inggris dari sekitar mereka dan berusaha membangun kekuatan sendiri. Akan tetapi mereka gagal. Dalam penyerangan yang mereka lakukan terhadap pos-pos pemerintah di daerah punjab, sekitar lima puluh orang di antara mereka terbunuh. Kegagalan pemberontakan ini menubabkan seluruh pimpinan mereka yang berada di daerah punjab di tahan oleh pasukan militer inggris dari divisi Ambala. Kemudian mereka di buang ke Rangoon dan tidak di perbolehkan balik ke india lagi
Setelah gagal didalam usaha politik ini, golongan Namdari mulai memusatkan fikiran kembali ke masalah agama. Yang terutama di lakukan adalah mengangkat guru baru penganti Baba Ram Singh. Guru ini masih keponakan Baba Ram Singh. Sekarang jumlah mereka ddi perkirakan ada sekitar 900.000 jiwa.
B.     Sekte Akali
Aliran atau sekte akaliadalah suatu aliran yang paling akhir lahir di kalangan kaum Sikh karena aliran ini baru muncul setelah perang dunia ke dua berbeda dari sekte Namdari, sekte ini sangat kuat ke arah politik, tokkoh utamanya, Banda Biragi sangat besar pengaruhnya dalam menentukan arah politik kelompok ini. Apa yang di lakukan oleh banda bairagi dan pengikutnya dapat di gambarkan oleh keterangan berikut ; “perhatian banda tidak pernah lengah dari mengamati pasukan inggris di india. Sering sekali ia melakukan perang grilia dan dengan menyamar di dalam kerumunan orang banyak. Mereka selalu menimbulkan kerusuhan-kerusuhan yang merepotkan penguasa benda tidak menetap di suatu tempat tertentu ia tidak pernah menetapkan bekas setelah melakukan pembunuhan, penyerangan serta penghancuran sesuatu sasaran mereka juga sering menghancurkan masjid-masjid dan mengobrak abrik makam kaum muslimin”
Mengenai aliran-aliran atau sekte-sekte lainyan tidak banyak informasi yang dapat di peroleh. Hal ini mungkin karena sekte-sekte tersebut tidak mempunyai pengaruh yang berarti dalam sejarah kehidupan kaum Sikh, tidak seperti dua buah sekte tersebut di atas. Di samping itu ada juga yang membagi kaum Sikh menjadi dua golongan besar, yaitu Manja dan Malwa. Penamaan ini di sesuaikan dengan tempat tinggal atau pusat daerah kediaman para pengikutnya. Manja adalah nama daerah bagian selatan  B’ari do’ab, yang terletak diantara sungai beas dan rafi, dekat kota lahore dan amritsar. Malwa adalah kaum Sikh yang pada umumnya berdiam di daerah sebbelah selatan sungai sultej dan menyebar sampai ke daerah newdelhi dan bikaner. Mereka merupakan penduduk asli daerah bersangkutan. Mereka di kenal sebagai namoor sikh dan family fhakalyan dengan maha raja Fatiala sebagai pemimpin mereka.



         Hari-Hari Besar
Ada tiga jenis perayaan yang di peringati oleh agama Sikh, umumnya perayaan ini diadopsi dari perayaan Hindu, antara lain:
  Perayaan tahun baru atau Baisakhi
  Perayaan cahaya atau Divali, dan
  Perayaan Hola Mohalla

AGAMA JAIN

A.    Sejarah dan Perkembangan Agama Jain
Jain bermakna penaklukan.Dimaksud penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi.[1] Salah satu filsuf berkata “ Jain adalah gerakan rasionalisme yang bebas dari kekuasaan Weda kitab suci umat Hindu dan terbentuk dari karakter umum masyarakat Hindu. Paham ini terbentuk karena rasa takut terhadap reinkarnasi dan pelarian dari kesialan hidup. Berawal dari asketisisme dalam hidup karena khawatir bahaya mengancam.Jainisme berpegang pada latihan rohani yang melelahkan dan kontrol yang sulit.Poinnya adalah tidak peduli pada kenikmatan dan penderitaan. Caranya dengan menjalani hidup dalam kesengsaraan dan kekerasan. Selain itu, dengan menjadi seorang rahib (pendeta) tetapi bukan Brahma.[2]

Jain muncul sebagai reaksi atas sikap eksrem Hindu dalam hal diskriminasi lapisan sosial (kasta). Akibat sebagian ajaran Hindu, masyarakat digeser kedalam medan konflik antar-lapisan sosial. Mereka terjebak diantara api kedengkian dan kebencian. Jainisme menyangkal sebagian ajaran Hindu, terutama dalam hal kasta yang dinilai berbahaya bagi masyarakat. Seruan baru ini mendapat dukungan penuh dari banyak pihak.Namun, meski sikap Jainisme tanpa seperti gerakan reformasi, pengaruhnya tidak banyak menyentu masyarakat. Mayoritas penduduk India masih berpegang pada doktrin Hindu. Jumlah pengikut Jainisme pun terbilang sedikit yang menurut perkiraan hanya berjumlah sejuta orang.[3]
Dialah Vadharmana, orang pertama yang mendirikan Jainisme. Umat Jain biasa memanggilnya Mahavira (599-527 SM). Mahavira lahir dari keturunan golongan Ksatria yang memegang kendali politik dan ketentaraan. Mahavira dibesarkan dirumahnya yang penuh dengan kebesaran, di tengah-tengah kemewahan dan kesenangan.Keluarganya tinggal di Pisarah berdekatan dengan sebuah Bandar yang sekarang dinamakan Patna di wilayah Bihar. Bapaknya, Sidartha adalah seorang anggota ketentaraan. Sidartha telah menikahi dengan anak perempuan ketua mejelis Tris Sala.
Kedudukan Sidartha menjadi semakin tinggi hingga sebagian riwayat menyifatkannya sebagai Amir Bandar atau Rajanya. Mahavira adalah anak laki-laki yang kedua. Rumah ayahnya dijadikan tempat tujuan para pemuka agama dan para ahli ibadah. Sebab, di tempat itu mereka menemukan jamuan paling enak dan penyambutan yang hangat.
Mahavira mulai senang mendengarkan cerita dan perbincangan mereka. Dia berharap bisa bergabung dengan mereka, tetapi kedua orang tuanya melarang. Mahavira pun mengubur harapannya itu karena mengetahui orang tuanya sangat menentag kerahiban. Setelah sang ayah meninggal dan kekuasaan kota diserahkan kepada kakaknya, mahavira meminta izin sang kakak agar merestui dirinya menapaki jalan kerahiban. Sang kakak pun mengizinkan.Setelah itu, Mahavira mulai melepas pakaian mewahnya dan menggantinya dengan pakaian orang-orang ahli badah dan pakaian pendeta.
Keesokan harinya, mahavira melintasi semua bagian kota sambil merenung dan berfikir. Dia mulai mengurangi makanan dan minuman serta hidup dari pemberian orang. Setelah menjalani masa kerahiban selama 13 bulan, dia melepas seluruh pakaiannya dan berjalan telanjang tanpa sehelai kain pun. Hal tersebut dilakukannya karena telah mencapai tahap kecerahan spiritual. Dia tak lagi memiliki rasa malu, sakit, senang, ataupun gembira.
Mahavira terus menjalani pelatihan nafsu dan rohani selama 12 tahun hingga menjadi sebagaimana yang diucapkan para pengikutnya—seseorang yang tidak lagi peduli akan rintangan seberat apapun. Setelah sampai pada tingkat tersebut, mahavira lantas beranjak ke tingkat selanjutnya: mengajak manusia untuk mengikuti ajaran dan madzhabnya. Beruntung, masyarakat menyambut seruannya karena waktu itu mereka resah dengan paham Hindu yang berlebihan.
Kemudian, Mahavira mengajak keluarga, kerabatnya, serta penduduk kota. Mereka pun memenuhi seruannya tersebut. Dia terus menyeru masyarakat hingga umurnya genap 72 tahun. Selepas itu, dia singgah di kota Penaporedi wilayah Patna. Mahavira memberikan 55 khotbah kepada masyarakat dan menjawab 36 pertanyaan yang tidak ditanya. Setelah itu, mahavira menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 527 SM.[4]
B.     Ajaran dan Praktek Kegamaannya
Jainisme tidak lain adalah gerakan revolusioner terhadap sebagian ajaran Hindu yang pengaruhnya meresahkan masyarakat. Sistem kasta telah menciptakan benih permusuhan dan kebencian antar-golongan. Jiwa masyarakat yang tadinya bersatu, diguncang dengan kedenkian satu sama lain karena system pelapisan social yang ekstrem tersebut.
Ketika system kasta tersebut, menurut keyakinan Hindu dianggap sebagai kehendak dewa, mahavira menentangnya.Akibat penentangannya itu, Jainisme dianggap sebagai aliran atheis. Dari sini terjadilah kekosongan besar pada agama Jain karena sikap mahavira tidak mengakui dewa, padahal pengakuannya tersebut bisa menyempurnakan aliran baru yang diserukan itu. Hal inilah yang pada dewa sebagai tuhan mereka.
Para pengikut Jain berpendapat bahwa Agama Jain adalah suatu mazhab yang amat lama dan telah cukup sempurna tatkala berada pada tangan Jain yang ke 24. Jain yang pertama namanya Rasabha, lahir sejak zaman purbakala dan sejarah tidak menyebutkan sesuatu tentangnya, hanya sebagian kisah dongen saja yang menghubungkannya. Setelah itu timbullah Jain-Jain yang lain, seorang demi seorang, hingga lahir dua orang Jain terakhir dalam tingkat zaman sejarah. Yang pertama adalah Jain yang ke 23 namanya Parsuanath yang dilahirkan pada abad ke 9 SM dan mati pada abad ke 8 SM.[5] Dia telah mendirikan suatu lembaga ketuhanan yang dikaitkan dengan keperluan latihan-latihan yang berat. Dia membagi pengikutnya menjadi dua bagian, yaitu golongan khusus dan golongan umum.
Lahirlah Mahavira dan dia-lah Jain yang ke 24. Dia menganut prinsip-prinsip Parsunath dan menambahkan lagi dengan pikiran-pikiran, pengalaman, dan ilhamnya. Kedudukan Mahavira menjadi tinggi dan aliran ini terkenal dengan namanya serta lembaga tersebut dikenal dengan gelarnya. Agama Jain dikenal kecuali berpadu dengan namanya.     
Diantara kepercayaan Jainisme adalah tidak mengakui system kasta. Kala itu, setiap orang berusaha untuk terbebas dari kasta yang kemungkinan kecil hanya didapat dengan bekerja. Pada sisi lain, Jainisme melihat bahwa kemampuan manusia tentu berbeda dalam menanggung dan menjalankan ajarannya. Karena itu, mereka membagi manusia menjadi dua golongan sesuai kemampuan: golongan khusus dan golongan umum (awam).
Golongan khusus adalah pendeta-pendeta, orang-orang pertapa yang mengamalkan latihan-latihan berat dan pengharaman diri serta meninggalkan keluarga dan rumah karena menjelajahi negara-negara, kota-kota, dan kampung-kampung.Golongan ini adalah tulang punggung lembaga tersebut.Demi mendapatkan keselamatan sejati. Sehingga mereka rela berjalan keliling kota dengan tubuh telanjang, tanpa busana apapun dan alas kaki serta menderita, sakit, lapar, hina dan miskin.
Sementara golongan umum adalah mereka yang mengambil jalan yang dilalui oleh orang-orang khusus tadi.  Mereka tidak melakukan latihan yang berat dan melelahkan, tetapi mereka berkewajiban menyanggupi semua ajaran Jainisme, seperti menjaga para arwah meski itu arwah seekor serangga sekalipun. Mereka beretika dengan akhlak dan perilaku orang-orang Jain dan harus bersedekah kepada para pedeta. Salah satu kepercayaan Jain yang sesuai dan sama dengan Hinduisme adalah pendapat tentang reinkarnasi dan adanya kelahiran berulang pada orang yang sama.[6]
Jainisme didirikan dan dikembangkan oleh 24 orang Tirthankara. Tirthankara adalah seorang yang menyeiaka kapal yang besar untuk menyebrangi luasnya lautan Samsara. Kapal itu adalah Dharma dan Tirthankara itu adalah objek ibadahnya, yang merevitalisasi ajaran Dharma di dunia.[7]
Ajaran agama Tīrthaṅkaras membentuk dasar untuk Jain kanon. Pengetahuan batin Tīrthaṅkara sempurna dan identik dalam segala hal dan ajaran mereka tidak bertentangan satu sama lain. Namun, tingkat elaborasi bervariasi sesuai dengan kemajuan spiritual dan kemurnian masyarakat selama periode kepemimpinan mereka. Semakin tinggi kemajuan spiritual dan kemurnian pikiran masyarakat, semakin rendah elaborasi yang dibutuhkan. Sementara Tirthankaras didokumentasikan dan dihormati oleh orang-orang iman Jain, kasih karunia mereka dikatakan tersedia bagi makhluk hidup, terlepas dari orientasi keagamaan.
Tirthankaras tinggal secara eksklusif dalam bidang Jiwa mereka, dan sama sekali bebas dari kashayas, nafsubatin, dan keinginan pribadi. Sebagai hasil dari ini, terbatas siddhi, kekuatan spiritual, yang tersedia bagi mereka- yang mereka gunakan secara eksklusif untuk peningkatan rohani dari makhluk hidup. Melalui darshan, visi Ilahi, Dandeshna, ucapan Ilahi, mereka memberikan negara mereka sendiri Keval Gnan, dan moksha, pembebasan akhir untuk orang mencari dengan tulus. Pada akhir manusia masa kehidupannya, seorang Tīrthaṅkara mencapai Statussiddha, mengakhiri siklus kelahiran dan kematian yang tak terbatas.

Jainisme mendalilkan waktu yang tidak memiliki awal atau akhir. Ini bergerak seperti roda gerobak. Jain percaya bahwa tepat dua puluh empat Tīrthaṅkaras dilahirkan pada tiap babak-siklus waktu di bagian alam semesta. Yang pertama adalah Tīrthaṅkara Rishabha, yang dikreditkan untuk merumuskan dan mengatur manusia untuk hidup dalam masyarakat harmonis. Tanggal 24 dan terakhir Tīrthaṅkara adalah Mahavira (599-527 SM). Digambara Jain percaya bahwa Tīrthaṅkara adalah laki-laki, tapi Svetambara Jain percaya bahwa ke-19 Tīrthaṅkara, Mallinath, adalah seorang wanita. Gambar Tīrthaṅkara biasanya duduk dengan kaki disilangkan di depan, jari-jari kaki dari satu kaki beristirahat dekat pada lutut yang lain, dan tangan kanan berbaring di atas kiri dipangkuan. Dalam tradisi Jain Tīrthaṅkaras yang royal dalam kehidupan terakhir mereka, dan Jain tradisi rincian catatan kehidupan mereka sebelumnya, biasanya sebagai royalti. Klandan keluarga mereka jugadi antara mereka tercatat dalam sangat awal, atau legenda, sejarah Hindu. Semua kecuali dua dari Jain dianggap berasal dari dinasti Ikshvaku. Munisuvrata, kedua puluh, dan Neminatha, dua puluh dua, yang dari Harivamsa tersebut. Jain kanon menyatakan bahwa Rishabha, yang Tīrthaṅkara pertama, didirikan Ikshvaku tersebut.

Dua puluh Tīrthaṅkaras mencapai status siddha di Shikharji. Vasupujya mencapai nirwana Champapuri di Bengal Utara, Neminatha pada Girnardi Gujarat, dan Mahavira, yang terakhir di Pawapuri, dekat ibukota Biharmodern, Patna.
Dua puluh satu dari Tīrthaṅkaras dikatakan telah mencapai moksha di kayotsarga (meditasi berdiri) postur, sedangkan Rishabha, Nemi dan Mahavira dikatakan telah mencapai moksha dalam posisi lotus.[8]

Nama – Nama Dewa Dalam Agama Jain




Pokok Ajaran Agama Jainisme
Mahavira mengajarkan bahwa kebebasan itu terpendam di dalam diri manusia sendiri.Yaitu :
1.      Kebebasan dari Karma maksudnya adalah  yakni sebab-akibat dari tindak laku manusiawi. Dan kaum Jain menganggap bahwa setiap orang terikat dengan karma, atas perbuatan jahat yang dilakukan setiap manusia, berbeda dengan agama Hindu dan Buddha yang menganggap bahwa karma itu ada karma baik dan karma buruk, yaitu apabila seseorang meloki perbuatan baik maka ia akan mendapatkan karma yang baik dan sebaliknya. Sedangkan kaum Jain, kaum Jain hanya memiliki satu karma saja yaitu hanya karma buruk saja.
2.      Kebebasan dari samsara maksudnya adalah hidup berulang kali kedunia yang semua itu merupakan denta. Kebebasan itu bukan dengan mempersembahkan korban sesewaktu, dan bukan pula dengan mempersembahkan sesajen didepan berhala.[9]

v  Kaum Jain juga memiliki prinsip- prinsip, yaitu diantaranya :
a. Ahimsa yaitu tidak melakukan tindakan yang merugikan mahluk hidup lainnya, seperti membunuh binatang, tumbuhan dll. Memang kalau dipikir  dengan logika, kita tidak akan pernah bisa untuk tidak melakukan yang seperti itu, karena apabila kita tidak memanfaatkan seperti tumbuhan dan binatang sebagai kebutuhan menusia seperti untuk makan misalnya, apa kita bisa makan dengan tidak menggunakan pokok makan dari tumbuhan dan hewan, Lalu bagaimana orang Jain menanggapi tentang konsep ini?  Lalu muncul jawaban memang tidak bisa dan, tapi semua itu dapat diminimalisirkan seperti dengan berpuasa, ada satu prinsip bahwa seseorang  berpuasa sampai dia meninggal, dan orang seperti ini dianggap telah mencapai kebebasan dimana dia telah berengkarnasi.
b. Satia yaitu kebenaran berbicara yang bermaksud tidak berbohong kapada sesama mahluk, karena juga kita ketahui bahwa berbohong adalah merugikan orang lain.
c. Asetya yaitu mencuri, dengan sesama manusia dalam faham kaum Jain dilarang untuk mencuri, sama seperti pada hukum hukum yang ada bahwa muncuri merugikan orang lain.[10]


Mahavira menyimpulkan seluruh pokok ajarannya pada Tiga Ratna Jiwa (The Three Jewels of Soul), yaitu :
1.      Pengetahuan yang benar
2.      Kepercayaan yang benar
3.      Tindakan yang benar
Tindakan yang benar itu mestilah berazaskan Lima Sumpah Terbesar (Five Great Vows),[11]yaitu :
1.      Jangan membunuh sesuatu yang hidup
2.      Jangan mencuri
3.      Jangan berdusta
4.      Jangan hidup bejat
5.      Jangan menghasratkan apapun

1.      Konsepsi tentang tuhan
Agama jain atau jainisme menolak adanya tuhan yang dianggap sebagai pencipta atau penguasa dunia ini. Walaupun demikian menurut hut chison, paham jainisme tidak termasuk atheis, melainkan disebut non-teisme. Penyebutan ini didasarkan pada corak pada agama tersebut tentang apa yang disebut tuhan. Agama Jain mengakui keberadaan apa yang disebut sang “Maha Kuat”, namun mengatakan bahwa sang maha kuat tersebut termasuk pula manusia, semuanya terbelenggu dalam alam dosa dengan sedikit atau tanpa ada kesempatan untuk melarikan diri darinya.[12]
Para pakar telah mencoba meneliti mengapa jainisme menolak tuhan, namun mereka baru memperkirakan saja mengenai sebab tersebut.Yakni yang pertama. Jainisme merasa tuhan-tuhan itu tidak ada perlunya karena manusia sendiri mampu mencapai kelepasan melalui kekuatannya sendiri tanpa harus bergantung secara neurotic terhadap kekuatan-kekuatan lain diluar dirinya. Kedua, karena tuhan-tuhan itu malah seolah-olah dianggap sebagai hal yang dijelaskan berdasarkan prinsip-prinsip irasional.[13]
Sebab lainnya yang perlu dopertimbangkan adalah latar belakang krisis politik dan kemerosotan kemasyarakatan pada saat itu. Kemudian Pentingnya upacara korban dan pentingnya kedudukan para Brahmana sebagai tulang punggung sistem kasta.[14]
2.      Konsepsi tentang alam
Jainisme menganut filsafat dualisme, yaitu membagi alam semesta ini menjadi dua kategori: zat yang hidup (jiva) dan zat yang tidak hidup (ajiva). Ajiva memiliki lima substansi yaitu benda (pudgala), dharma, adharma, ruang (akasa) dan waktu (kala). Unsure jiva dan keenam unsure ajiva tersebut disebut denga enam dravya.
Menurut agama ajarang agama jain substansi jiva dan ajiva adalah kekal, tidak diciptakan, tidak ada permulaan dan tidak berakhir. Atau dengan kata lain tidak ada sebab pertama yang menyebabkan terjadinya substansi-substansi tersebut.
Kemudian selain pembagian menurut kedua kategori tersebut, maka dari sudut pandang lain berbeda, substansi-substansi tersebut lebih lanjut diklasifikasikan menjadi dua yakni astikaya dan nastikaya.[15]
Menurut kosmologi Jainisme alam semesta ini adalah abadi, alam semesta ini bergerak melalui satu lingkaran terus-menerus dari stau tempat yang ideal menuju kearah titik bawah lalu dilanjutkan menaik lagi melalui titik atas dan begitu seterusnya. Menurut agama Jain alam semesta ini bergerak bukan karena adanya tuhan melainkan bergerak secara mekanistis belaka.[16]
3.      Konsepsi tentang karma
Jainisme tetap menerima ajaran tentang karma-samsara dalam pemikiran tradisional India, dan mengajarkan bahwa karma terjadi karena tercampurnya jiva dan ajiva. Konsep karma dalam Jainisme  berpangkal pada prinsip dualism antara jiwa dan benda, atas dasra prinsip tersebut, menurut Jainisme tubuh manusia itu memenjarakan jiwanya.
Menurut Jainisme karma adalah energy jiwa yang dengan energy itu menyebabkan penggabungan jiwa dan benda dan kekotoran berikutnya dari jiwa itu. Menurut Jain karma bisa dibersihkan, prose pembersihan karma disebut dengan nirjana, jika proses nirjana ini berjalan terus tanpa rintagan maka pada akhirnya semua karma akan tercabut dari jiwa dan akan mencapai tujuan utama hidup.[17]

C.    Sekte di dalam Agama Jain
Sekitar tahun 310 SM. Terjadilah perpecahan paham dan pendirian dalam kalangan agama Jain itu, yakni lebih kurang 3 abad sepeninggalan Mahavira (599-527 SM).Perpecahan itu disebabkan musim paceklik di India utara. Sejumlah 12.000 orang dari jemaat Jain itu, di bawah pimpinan Bhadrabahu, melakukan perpindahan menuju belahan selatan India, berdiam dan menetap dalam wilayah Mysore. Dengan begitu jemaat Jain itu telah terpecah dua, yaitu belahan utara dan belahan selatan. Belahan utara itu beriklim dingin dan belahan selatan beriklim panas. Didalam wilayah yang beriklim panas itu pakaian tidaklah diperlukan. Sedangkan jemaat Jain bagian belahan utara lebih mengutamakan bertarak dan bertapa, yakni hidup secara asketik.
Sekitar tahun 82 M baharulah perpecahan itu menjadi resmi disebabkan masalah pakaian. Jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan Utara pegunungan Vindaya, yang bersuhu sejuk itu, selalu mengenakan pakain putih. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekte Svetambara, yakni jemaat yang berpakaian putih.
Tetapi jemaat Jain yang mendiami wilayah pada belahan Selatan pegunungan Vindhya itu, yang sepanjang tahun beriklim panas, tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun. Jemaat Jain itulah yang dipanggilkan dengan sekte Digambara, yakni jemaat yag bertelanjang bugil bagaikan langit.
Masalah pakain itu lantas menjadi masalah keagamaan yang meruncing sangat tajam antara kedua sekte. Sekta Digambara itu beralaskan sikap hidup Mahavira di dalam pengembaraannya, yang tidak ambil pusing dan tidak perduli terhadap kebutuhan duniawi.
Sekte Digambara memiliki tatanan moral yang lebih keras dibanding Svetambara. Tidak seperti Svetambara, Digambara tidak mempercayai jika wanita dapat mencapai kelepasan/kebebasan jiwa sampai mereka terlahir/dilahirkan kembali sebagai seorang laki-laki. Menurutnya, hanya kaum laki-laki saja yang daat mencapai kelepasan jiwa.[18]
Tetapi semenjak abad ke 7 M, yakni semenjak anak Benua India itu berada di bawah kekuasaan Islam, demikian Robert E. Hume, Ph.D. di dalam bukunya Wordl’s Living Religions edisi 1930 halaman 52,  maka anggota jemaat Digambara itu mulai dipaksakan mengenakan pakaian, setidak-tidaknya mengenakan cd.[19]
Kedua sekte ini pun mempunyai perbedaan pandangan tentang sifat Jina, tidak seperti Svetambara, Digambara mempercayai bahwa Jina tidak membutuhkan makanan, tidak mempunyai fungsi tubuh maupun membawa beberapa fungsi-fungsi duniawi.[20]
Perbedaan lainnya antara kedua sekte tersebut adalah pandangan mereka tentang kepemilikan duniawi. Digambara mempercayai bahwa seseorang itu dapat mencapai kelepasan spiritual hany dengan meninggalkan/melepaskan kepemilikan terhadap sesuatu yang bersifat keduniawian.[21]
D.    Kitab Suci Agama Jain
Kitab suci di dalam agama Jain (Siddhanta) itu bermakna : pembahasan. Dan  kitab suci Jain bisa disebut dengan nama Agamas yang bermakna : perintah, ajaran, dan bimbingan.[22]
 Kitab suci Jain  hanyalah sekumpulan 55 khotbah mahavira, beberapa pidato dan wasiat yang berhubungan dengan para murid, pendeta, dan ahli ibadah aliran tersebut. Warisan ini turun-temurun berpindah secara lisan yang baru terkumpul pada abad ke-4. Pada waktu itu, para pemuka agama Jain berkumpul di kota Paleopatra. Mereka berdiskusi perihal kodifikasi warisan mahavira tersebut karena khawatir hilang dan tercampur dengan sesuatu yang lain. Mereka mengumpulkan sebagian isi kitab dalam beberapa buku dan berselisih tentang sebagian sumbernya.Namun, mereka belum berhasil menyatukan suara masyarakat guna menyepakati rencana kodifikasi tersebut.
Oleh karena itu, penulisan undang-undang Jainisme ditunda sampai tahun 57 M. akhirnya, mereka membukukan sebagian naskah yang didapatkan setelah cukup banyak kehilangan warisan tersebut. Pada abad ke-5 M, mereka menyelenggarakan pertemuan lain di kota Welapehi yang menyepakati pendapat terakhir tentang warisan Jainisme yang mereka anggap suci. Kali pertama, buku tersebut ditulis dalam bahasa Ardaha Majdi, (bahasa kepustakaan sebelum masehi)  kemudian ditulis dengan bahasa Sanskerta pada abad-abad Masehi. Selain itu orang Jain juga percaya dengan permata yakut yang tiga atau bisa disebut Tiga Ratna Jiwa diantaranya yaitu,
1.      Permata atau mutiara yang pertama adalah itikad yang sah, dialah puncak penyelamatan. Maksud mereka adalah percaya kepada para pemimpin Jain yang dua puluh empat itu. Itulah aturan yang dipuja dan jalan yang lurus. Itikad yang sah tidak ada kecuali setelah diri terlepas dari kotoran-kotoran dosa yang melekat padanya dan yang menghalangi sampainya ruh kepada itikad ini.
2.      Permata atau mutiara yang ke dua adalah ilmu yang benar, maksudnya adalah pengetahuan mengenai alam dari kedua segi rohaninya dan kebendaan serta membedakan diantara keduanya. Martabat pengetahuan ini berlainan menurut kekuatan penglihatan hati dan kejernihan ruh. Seseorang yang memisahkan pengaruh dari kekuatan rohani serta sinarnya dapat melihat alam dalam bentuk yang sebenarnya, segala hakikat terbentang di depannya, tabir-tabir tebal tersingkap darinya yang menyebabkannya dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan, antara sangkaan dan keyakinan. Dia tidak diraguhkan oleh apapun . Ilmu pengetahuan yang benar ada sesudah itikad yang sah.    
3.      Permata atau mutiara yang ketiga adalah akhlak yang benar, maksudnya adalah bersifat dengan akhlak Jain seperti melakukan kebaikan meninggalkan keburukan, tidak membunuh, tidak berbohong, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan kecurangan dan berzuhud dengan barang-barang kepunyaan sendiri. 
Ketiga mutiara ini saling berkaitan.Tatkala seorang manusia itu telah sempurna maka dia mendapati suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak dapat ditandingi oleh kenikmatan dan kebahagiaan manapun.[23]
v  Prinsip-prinsip Utama untuk Pembersihan Ruh
Para pengikut Jain meletakan tujuh asas utama untuk membersihkan ruh.Asas-asas ini adalah dianggap puncak atau sumber prinsip-prinsip Agama Jain.Asas-asas ini adalah sebagai berikut.
1.      Membuat pengakuan dan perjanjian kepada para pemimpin dan pendeta-pendeta bahwa hendaklah murid itu berbudi pekerti baik dan membuang segala kelakuan yang buruk.
2.      Bertakwa, yaitu hendaklah senantiasa berhati-hati ketika berbicara dan bekerja, dan pada segala gerak-gerik dan juga waktu berdiam. Tidak menyakiti atau membahayakan makhluk apapun yang hidup walau hina sekalipun.
3.      Mengurangi gerakan badan, bicara, berfikir tentang hal-hal dunia yang jasmani sehingga masa dan napas-napas yang berharga tidak terbuang pada perkara-perkara yang kecil.
4.      Menghiasi diri dengan sepuluh perkara yang menjadi puncak kebaikan dan jalan kesempurnaan, yaitu pemaaf, benar, lurus, merendahkan diri, bersih, menahan nafsu, berhemat lahir dan batin, berzuhud, meninggalkan perempuan, dan tidak mementingkan diri sendiri.
5.      Pemikiran terhadap hakikat utama mengenai alam dan jiwa. Sebagian masalah alam dan masalah jiwa dapat dicapai dengan panca indra yang bersifat kebendaan, dan sebagiannya dapat dicapai dengan kaca mata akal.
6.      Mengatasi kesulitan hidup dan segala kedukaannya yang timbul dari gejala-gejala jasmani atau kebendaan, seperti rasa lapar, dahaga, sejuk, panas, dan segala hawa nafsu yang bersifat kebendaan itu. Haruslah dia menegakkan suatu tembok yang kukuh disekelilingnya agar terlepas dari gejala-gejala dan panca indra dan dari pengaruhnya.
7.      Kepuasan yang sempurna, ketenangan, budi pekerti yang baik, kebersihan lahir dan batin.[24]
Agama Jain beranggapan bahwa prinsip-prinsip ini melepaskan manusia dari ikatan yang mengikatnya dengan kehidupan serta merampas ketegangan pikiran dan hatinya. Seandainya seseorang bersifat dengan sifat-sifat yang tujuh ini maka dia sikeluarkan dari kegelapan yang menyelubunginya disebabkan kedukaan hidup di dunia.
1.      Tentang Epsitemologi

Dalam aspek epistemologi, jaina menolak pandangan carvaka bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Jika kita menolak kemungkinan memperoleh pengetahuan benar melalui inferensi dan testimoni orang lain, kita semestinya meragukan validitas persepsi, karena sekalipun persepsi kadang-kadang bisa bersifat ilusi. Padahal carvaka sendiri memakai inferensi (anumana) ketika mengatakan bahwa semua inferensi adalah invalid, dan juga ketika mereka menolak eksistensi objek-objek karena mereka tidak dilihat. Disamplng persepsi, jaina menerima inferensi dan testimony (sabda) sebagai sumber pengatahuan valid. Inferensi menberikan pengetahuan valid ketika ia mengikuti kaidah-kaidah logis yang tepat. Testimoni valid ketika ia merupakan laporan otoritas terpercaya. Atas otoritas ajaran-ajaran orang-orang suci yang telah terbebaskan (jaina atau tirthankara) orang-orang pengikut ajaran ini mendapatkan pengetahuan yang benar yang tidak dapat diperoleh oleh orang yang masih terbatas. Testimoni Tirthankara ini tidak diragukan lagi ke-validan-nya.[25]

Jaina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi, pengetahuan langsung (aparoksa) dan pengetahuan antara (paroksa).Pengetahuan langsung lebih lanjut lagi dibagi lagi menjadi avadhi, manahparyaya dan kepala; dan pengetahuan antara menjadi mati dan sruta. Mati mencakup pengetahuan perseptual dan inferensial.Sruta berarti pengetahuan yang diambil dari otoritas. Avadhi-jnana, manahparyaya-jnana, dan kevala-jnana merupakan tiga jenis pengetahuan langsung yang bisa dikatakan sebagai persepsi ekstra biasa dan ekstra sensori avadhi adalah kemampuan melihat hal-hal yang tidak Nampak oleh indra; manahparyaya adalah telepathi; dan kevala adalah kemahatahuan. Disamping kelima pengetahuan benar tersebut diatas, ada juga tiga pengetahuan salah, yaitu samshaya atau keragu-raguan, viparyaya atau kesalahan dan anandhyavasaya atau pengetahuan salah melalui kesamaan.[26]

E.     RITUAL & PRAKTEK KEAGAMAAN DALAM JAINISME
1.      Asketisme
Menurut jain ada dua motif melakukan kehidupan asketik, pertama bahwa kehidupan asketik dianggap sebagai salah satu macam atletikisme spiritual yaitu latihan spiritual para atlit menjelang pertandingan.Kedua, bahwa kehidupan asketik itu menempatkan prinsip serba dua antara materi dan spirit (jiwa). Alu mencari cara untuk membebaskan jiwa yang terkurung dalam daging.
Jainisme sangantmementingkan asketisme.Hal ini diandaikan sebagai perjuangan mahavira untu memperoleh pengetahuan agungng.Karena itu sifat asketik jainisme menjadi bgitu kstrim dan ketat.
2.      Etika penganut agama Jain
Masyarakat jainisme terdiri atas pendeta, biara dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik.Sementara dalam kasus orang umum hal itu bisa di modifikasi.Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta).Kelima sumpah tersebut adalah (1) ahimsa (non kekerasan), (2) satya (kebenaran di dalam pikiran), (3) asteya (tidak mencuri), (4) brahmacharya (berpantang dari pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan), dan (5) aparigraha (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam halo rang umum, aturan ini bisa di modifikasi dan disederhanakan.[27]
Untuk orang awam ada 12 atauran yang semula berasal dari aturan pendeta. Keduabelas aturan tersebut adalah:
1.      Tidak pernah menyengaja melenyapkan kehidupan dari makhluk ang berorgan indra
2.      Tidak pernah berbohong
3.      Tidak mencuri
4.      Tidak berzina
5.      Tidak tamak
6.      Menghindari godaan-godaan
7.      Membatasi jumlah barang yang dipakai sehari-hari
8.      Menjaga hal yang berlawanan dengan usaha untuk menghindari dari kesalahan-kesalahan
9.      Menjaga periode-periode meditasi yang telah dicapai
10.  Mengamati periode-periode penolakan diri
11.  Memanfaatkan periode-periode kesempatan menjadi pendeta
12.  Memberi sedekah

3.      Puasa
Atau yang biasa disebut puasa Sallekhana atau Santhara. Ritual ini bisa dibilang sangat ekstrim dimana seseorang penganut ajaran ini melakukan puasa hingga ia meninggal. Sallekhana adalah ritual agama Jain untuk bunuh diri dengan berpuasa. Karena sifat berkepanjangan, seseorang diberikan waktu yang cukup untuk merenungkan hidupnya. Sumpah Sallekhana diambil ketika seseorang merasa bahwa kehidupannya telah mencapai puncaknya. Tujuan dari sumpah ini adalah untuk membersihkan karma lama dan mencegah terciptanya karma yang baru. [28]
Puasa merupakan cara terbaik untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup, dan beberapa di antara biarawan Jain meneruskan puasa terakhir: mereka duduk selama berhari-hari dan kelaparan sampai mati. Hal ini dianggap merupakan jalan untuk mencapai pembebasan.[29]
Selain puasa Sallekhana, ada puasa-puasa lain dalam agama Jain, yaitu puasa Chauvihar Upwas yaitu puasa malam hari dan puasa Tivihar Upwas yakni puasa tanpa makan, akan tetapi boleh minum air (yang telah dimasak). Kedua puasa ini biasa dilakukan dalam perayaan keagamaan di musim hujan. Puasa ini bila dilaksanakan selama 8 hari disebut dengan ‘Atthai’dan apabila dilaksanakan selama sebulan, maka disebut ‘Maskhamana’.[30]
4.      Samayik[31]
adalah salah satu praktek ritual yang paling penting dari Jainisme di mana kami mencoba untuk mendekati jiwa kita. Selama samayik, kita duduk di satu tempat selama empat puluh delapan menit mengisolasi diri dari rumah tangga sehari-hari, sosial, bisnis, atau kegiatan sekolah.
·         Chaturvimsati (menyembah 24 tirthankara) :merupakan ritual keagamaan penting Jainisme. Ketika seseorang mencapai Sambhav di Samayik, orang berpikir tentang mereka kepribadian yang besar yang menunjukkan jalan `samta`. Yang berikutnya juga berpikir tentang Gunas mereka (karakteristik). Ini adalah konsep di balik chaturvimsati. Vandan (menawarkan salam ke saddhus (bikhu) atau sadvhis (bikhuni)
·         Selama vandana, kita tunduk kepada para biarawan dan biarawati dan mengungkapkan rasa hormat kita kepada mereka. Mereka adalah pemandu agama kita saat ini, dan preceptors. Sementara membungkuk, kita menjadi rendah hati, dan dengan demikian, ini membantu kita untuk mengatasi ego dan amarah.
·         Pratyakhyan (penolakan) :Ini adalah penolakan formal kegiatan tertentu, yang mengurangi atau menghentikan aliran dari karma. Pratyakhyan membantu kita untuk belajar mengendalikan keinginan kita dan mempersiapkan kita untuk penolakan yang lebih besar. Selain enam ritual penting diatas umat jain juga taat melaksanakan ibadah harian atau pemujaan harian yakni penyembahan terhadap berhala. dalam penyembahan berhala ada tiga tingkatan atau tiga taha yakni puja, vandan kirtan dan aarati.
Puja dalam penyembahan ini ada 8 macam yakni:
1.      Jala (Air) Puja: Air melambangkan laut.
2.      Chandan (Sandal kayu) Puja: Chandan melambangkan Pengetahuan (Jnan).
3.      Pushpa (Bunga) Puja: Bunga melambangkan perilaku. cinta dan kasih sayang terhadap semua makhluk hidup.
4.      Dhup (Dupa) Puja: Dhup melambangkan kehidupan pertapa
5.      Deepak (Candle) Puja: Nyala Deepak merupakan Kesadaran Murni atau Jiwa tanpa perbudakan atau Jiwa Dibebaskan
6.      Akshat (Beras) Puja: Beras rumah tangga adalah jenis biji gandum, yang non-subur
7.      Naivedya (Manis) Puja: Naivedya melambangkan makanan lezat
8.       Fal (Buah) Puja: Buah melambangkan Moksha atau Liberation
·         Puja khusus (poojan)
Ada beberapa macam puja khusus ini diantaranya yakni:
1.      Snatra puja : Ini melambangkan tirthankara yang mandi digunung meru bersama dewa dewi, poojan selalu dilakukan sebelum setiap puja, pujan, pada perayaan ulang tahun, selama pembukaan usaha baru, dan pindah rumah dll.
2.      Panch Kalyanak puja : Puja ini memperingati lima peristiwa besar kehidupan theTtirthankar itu. Puja ini dilakukan dalam setiap acara yang baik. Lima kalyanks adalah konsepsi, kelahiran, penolakan, kemahatahuan, dan Moksha.
3.      Antaray Karma puja : Ada delapan poojas, sangat mirip dengan Ashta Prakari Pooja. Dalam poojas, menyebutkan tentang, bagaimana orang yang berbeda menciptakan antraykarmas dan mereka mampu menghapus hambatan tersebut setelah melakukan poojas ini.
·         Pujan yakni Sebuah ritual panjang yang hampir berlangsung sepanjang hari dan dilakukan oleh orang-orang yang sangat terpelajar dan melibatkan banyak orang dalam upacara. Mereka dilakukan sesekali seperti saat baru upacara pembukaan candi, setelah penebusan dosa khusus seseorang seperti varshitap dll.
5.      Hari-hari Perayaan Dalam Agama Jain
Festival keagamaan atau parvas biasanya menurut tanggal pada kalender lunar. Ini bervariasi dari dua belas hari dalam satu bulan untuk satu atau dua hari dalam setahun. Jain mengamati penebusan dosa dan melakukan praktik keagamaan dengan tingkat intensitas yang berbeda. Mereka penting dan hari-hari yang biasa terlihat adalah sebagai berikut.

·         Dua Belas Tithies: Dua Belas Tithis di setiap bulan 2, 5, 8, 11, 14 dan 15 hari masing-masing setengah

siklus bulan. Kebanyakan Jain mengamati lima hari, Shukla 5th, dua 8th dua hari ke 14. Jain Shastra menunjukkan Aaushyaabandh untuk kehidupan selanjutnya terjadi pada salah satu dari hari-hari ini.
·          Hari Tahun Baru: Kartak Shukla Akam Gautam berenang yang Keval ghyan hari.
·         Ghyan Panchmi: Ghyan Panchmi - 5 hari Tahun Baru. Upaya terkonsentrasi terhadap menghapus Ghyanavarniya Karma. Kitab Suci disembah dengan besar pengabdian. Buku dibersihkan dan diperbaiki jika diperlukan.
·         Chaumasi Chaudas: Tiga Shukla Chaudas di bulan Kartak, Falgun dan Ashadh.
·         Dev Diwali atau Kartak Poonam: Akhir Chaturmas atau musim hujan-Sadhus Restart Vihar dan pegunungan Shatrunjay membuka kembali bagi para peziarah.
·         Mauna Agiyaras: Ini adalah hari yang sangat menguntungkan sebagai benar-benar 150 Kalyanaks (dalam 10 Bhumies Karma) telah terjadi. Dalam Bharat itu adalah hari ulang tahun Diksha Kalyanak dari 18th Tirthankar Aarnathj, Kevalghyan Kalyanak, untuk ke-21 Tirthankar Neminathji dan Kelahiran, Diksha dan Keval Ghyan Kalyanak untuk ke-19 Tirthankar Mallinathji. Setiap kegiatan relegius dilakukan pada hari ini lebih bermanfaat daripada hari lain. Terutama kita mengamati diam, tetap dalam meditasi sepanjang hari. Cepat dilakukan pada hari ini memberikan buah dari 150 puasa.
·         Poh Dasmi: Tiga hari puasa (sebagian atau lengkap) jatuh pada VAD 9, 10 hari-11 Margshirsh.Tiga Kalyanaks dari 23 Tirthankar Parshvanathji di Magshirsh.

·         Navpad:Oli Parva - puasa parsial, satu kali makan sehari tanpa vigai, sembilan hari

berurutan dan meditasi diarahkan ke Navpad atau Siddhachakra Aradhna, biasanya jatuh pada (April dan Oktober) Lunar bulan Chaitra & Aso dari 7 hingga hari ke-15.
·         Mahavira Janma: Chaiitra Shukla Teras Anda Simbolik Snatra Pooja dilakukan. Jain berkumpul untuk mendengarkan Pesan Mahavira, presentasi dramatis Trishlas mimpi dan kelahiran Bhagwans.
·         Akshay Trutiya: Vaishak Shukla Trija-Bhagwan Rishabhdev bisa mendapatkan yang tepat alm (dengan air tebu) setelah 400 hari puasa. Jain memberi penghormatan kepada Palitana atau Hastinapura Tirth hari ini.
·         Paryushan Parva: Parva ini dikenal sebagai raja semua parvas Kehidupan Mahavira. Digmbara merayakan selama sepuluh hari - setiap hari selama 10 atribut nyata jiwa juga disebut Das-Lakshna Parva.
·         Perayaan Diwali: Perayaan Diwali menandai peringatan Mahavira. Ketika Mahavira meninggalkan tubuh-Nya di bumi selamanya, itu adalah malam gelap Aso Amas. 18 Kings di jemaat memutuskan untuk menerangi lampu-Divas. Ini menciptakan cahaya yang luar biasa. menandakan bahwa pengetahuan Mahavira masih hidup.[32]
























BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Agama Jain adalah agama yang termasuk tidak mengakui adanya system kasta.Sebab sistem kasta telah menciptakan benih permusuhan dan kebencian antar golongan.
Dan orang Jain mempercayai ajaran itu Tiga Ratna Jiwa (The Three Jewels of Soul), yaitu :Pengetahuan yang benar, Kepercayaan yang benar, Tindakan yang benar. Sehingga mereka akan mendapatkan suatu kesempurnaan dalam hidup serta dapat melawan kebebasan itu yang terpendam di dalam diri manusia sendiri.  













BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1.      Prof. Dr. Shalaby Ahmad, , Agama-Agama Besar di India. PT Bumi Aksara Jakarta,  1998.
2.      Sou’yb, Joesoep, Agama-Agama Besar Di Dunia. PT Al- Husna Zikra, Jakarta, 1996.
4.      Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI).
5.      Abdullah al-Maghlaut, bin Sam.  Atlas Agama-Agama.
6.      Ali, Mukti, Agama-Agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga Press, 1988).
7.      I.B. Putu Suamba, Dasar-Dasar Filsafat India, (Denpasar: Mabhakti, 2003).
8.      J, O’Neil Michael & J Sydney Jones. World Religions Biography 2.
9.      Ahmed, Moinuddin. Religious Of All Mankind. (Kalan Mahal, New Delhi).


[1] Joesoep sou’yb, agama-agama besar di dunia, penerbit pt. Al Husna Zikra, h. 128
[2]  Sami bin Abdullah al-Maghlaut, Atlas Agama-agama, h. 563
[3] Ibid
[4] Sami bin Abdullah al-Maghlaut, Atlas Agama-agama, h. 564
[5] Prof. Dr. Ahmad Shalaby, Agama-Agama besar di India, Bumi Aksara. h. 96
[6] Ibid
[7] Moinuddin Ahmed, Religious Of All Mankind. Kalan Mahal: New Delhi. 1994. Hal 58.
[8]http://en.wikipedia.org/wiki/Jainism
[9] Joesoep sou’yb, agama-agama besar di dunia, penerbit pt. Al Husna Zikra, h. 133-134
[10]http://anharululum.blogspot.com/2011/04/mengetahui-sekilas-tentang-agama.htm
[11] Joesoep sou’yb, agama-agama besar di dunia, penerbit pt. Al Husna Zikra, h.136
[12]Ali, mukti, agama-agama di Dunia, 158-163



[16]Ibid
[17]Ibid
[18] Michael J O’neil and J Sydney Jones, World Religions, Biographies 2. Hal. 243.
[19] Joesoep sou’yb, agama-agama besar di dunia, penerbit pt. Al Husna Zikra, h. 140-141
[20] Michael J O’neil and J Sydney Jones, World Religions, Biographies 2. Hal. 243.
[21]Ibid. Hal.243
[22] Joesoep sou’yb, agama-agama besar di dunia, penerbit pt. Al Husna Zikra, h. 140-141
[23] Ibid
[24] Prof. Dr. Ahmad Shalaby, Agama-Agama besar di India, Bumi Aksara. h. 107
[25] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, (Denpasar: Mabhakti, 2003), h 315-16
[26] Ibid, h. 316
[27] I.B. Putu Suamba, Dasar-dasar Filsafat India, h. 319.
[28] http//
[29] http//
[30]http//
[31]http//blognovihandayani
[32]ibid